Pertama kali diumumkan akhir tahun 2008 lalu, ponsel komersial Android masih dianggap ‘angin lalu’ oleh Nokia yang saat itu masih jadi raja ponsel dunia. Namun nyatanya hanya butuh beberapa tahun hingga akhirnya perangkat Android mendominasi dan merebut takhta Nokia.
T-Mobile G1 atau yang juga dikenal sebagai HTC Dream memang tak terlalu menyita perhatian konsumen saat dulu diluncurkan. Sejumlah produsen termasuk Nokia menganggap Android tak akan menjadi ancaman, apalagi karena menggunakan OS berbasis Linux yang menurutnya unmanageable.
“Kami tidak melihatnya sebagai ancaman. Mengumpulkan sejumlah besar orang untuk bersama-sama mengembangkan sebuah ponsel adalah sesuatu yang telah kami lakukan (pada Symbian dan Windows Mobile) sejak bertahun-tahun lalu,” ujar juru bicara Nokia saat itu.
Tak cuma dari Nokia, pernyataan resmi pihak Symbian menanggapi kehadiran Android di jagat ponsel juga tak berbeda jauh. Pengalamannya mengembangkan berbagai jenis ponsel selama bertahun-tahun membuatnya percaya diri menghadapi tantangan Android yang notabene adalah pemain baru saat itu.
“Kami telah melakukannya selama 9 tahun dan mungkin telah melihat selusin platform baru yang datang dan mengatakan kami mendapat rintangan. Kami menganggapnya serius tapi kami adalah orang-orang yang mengembangkan sebuah ponsel yang sesungguhnya, platform ponsel yang sebenarnya, dan telah digunakan oleh banyak ponsel selama bertahun-tahun,” demikian pernyataan pihak Symbian beberapa tahun lalu, seperti dilansir Phone Arena, Senin (30/4/2014).
“Kami juga telah banyak melihat banyak upaya untuk membuat semacam standar dari linux. Tapi Linux pada dasarnya terpisah-pisah. Linux itu unmanaged dan sulit dikendalikan perkembangannya,” tambah pernyataan Symbian dalam tanggapannya mengenai Android.
Baik Nokia maupun Symbian memang bisa dibilang terlena oleh kejayaannya sendiri. Ponsel berbasis Symbian memang sangat digemari beberapa tahun lalu, namun tanpa adanya kompetisi dari platform lain pengembangannya justru terkesan mandek.
Sebaliknya Google yang mengembangkan Android justru terus-menerus menyempurnakannya. Seiring waktu, pesona Android dengan segudang fiturnya yang ditambah teknologi layar sentuh mulai berhasil menyita perhatian. Apalagi harga yang ditawarkan juga masuk kategori terjangkau.
Ditambah lagi saat itu juga hadir iPhone dengan iOS-nya yang cukup dinanti banyak penggila fans Apple. Secara tidak langsung kedua platform ini pun menggerus Symbian yang mulai sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh produsen ponsel termasuk Nokia dan lebih memilih Android yang lebih murah dan bervariasi.
'BlackBerry Lebih Dipercaya Ketimbang Android'
Google telah memamerkan versi terbaru sistem operasi Android, yang dinamakan Android L. Salah satu fiturnya adalah Android For Work yang diklaim membuatnya aman digunakan kalangan enterprise. Tapi bos BlackBerry mengkritiknya.
Dengan Android For Work yang berbasis Samsung Knox, pebisnis dapat memisah data kantor dan data personal dengan metode containerization. Data pekerjaan bisa dikendalikan oleh admin IT dan bisa dikunci, dihapus atau di-restore tanpa mengganggu info personal pengguna.
Android For Work juga memungkinkan perusahaan tak perlu memodifikasi aplikasi mereka untuk berfungsi di enviroment-nya. Fitur ini dianggap sebagai langkah bagus, meski CEO BlackBerry John Chen menilainya tak sepadan dengan sekuriti BlackBerry.
"Di Google I/O, dikatakan mereka akan melakukan beberapa hal untuk meningkatkan sekuriti Android. Khususnya memisah aplikasi dan data kantor dan personal di Android terbaru, dengan teknologi Samsung Knox. Saya senang dengan langkah pertama ini," kata Chen.
Tapi Chen menggarisbawahi bahwa Samsung Knox sendiri belum terlalu sukses dan kurang dari 2 juta perangkat Samsung menggunakannya. Padahal tiap kuartal, Samsung menjual sampai 90 juta smartphone. Beda dengan sekuriti BlackBerry yang menurut Chen diadopsi banyak perusahaan dan jauh lebih banyak dipercaya.
"Jutaan perangkat BlackBerry dipercaya setiap hari oleh perusahaan besar di seluruh dunia. Software BES kami mendominasi enterprise mobility management, dengan pelanggan pebisnis lebih banyak dibanding kompetitor," klaim Chen.
"Dan ketika Knox mencoba membangun benteng di pondasi yang tidak aman (Android-red), seluruh infrastruktur BlackBerry dibangun berlandaskan pondasi manajemen mobile dan keahlian sekuriti selama beberapa dekade," tambah Chen yang detikINET kutip dari InformationWeek, Senin (30/6/2014).
Chen memang berulangkali mempromosikan keunggulan sekuriti BlackBerry. Pria keturunan China ini memang sedang berupaya keras membangkitkan BlackBerry yang jauh tertinggal penjualannya dari perangkat Android dan iOS.
Sumber : http://inet.detik.com/read/2014/06/30/132159/2623138/317/ketika-nokia-remehkan-android?i991104topnews










